Sabtu, Juli 25, 2026

Miris! Sarjana Difabel Netra Jualan Kerupuk demi Bertahan Hidup, Setahun Berjuang Kini Terbentur Aturan

Perjuangan Gilang Rizki (29), penyandang disabilitas netra asal Brebes, untuk bertahan hidup di Kota Yogyakarta menemui jalan terjal. Meski telah menyandang gelar sarjana Bimbingan Konseling dari UIN Jogja, Gilang terpaksa mengandalkan penghasilan dari berjualan kerupuk rambak.

Setahun terakhir, Gilang rutin menjajakan kerupuk rambak di kawasan Pasar Ngasem. Dengan kode QRIS yang menggantung di lehernya, ia menawarkan kerupuk seharga Rp7 ribu per kantong kepada para pengunjung.

Bagi Gilang, berjualan bukanlah pilihan yang sejak awal ia impikan. Ia ingin bekerja di kantor atau menjadi guru sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Namun, setelah menyelesaikan kuliah pada 2024, berbagai upaya mencari pekerjaan belum membuahkan hasil.

“Sebenernya aku nggak mau jualan, terus terang aku. Aku kan kuliah, sayang ijazahnya. Tapi ya gimana, cari kerjaan susah, apalagi di kota besar. Sebenarnya ya pengin kerja di kantor. Udah mencoba melamar kerja,” kata Gilang saat ditemui di Pasar Ngasem

Perjuangan mencari penghasilan sebenarnya telah dimulai Gilang sejak masih duduk di bangku kuliah. Sejak 2017 hingga lulus pada 2024, ia pernah berjualan berbagai macam makanan, mulai dari camilan, nasi kucing, hingga gorengan.

Keputusan untuk berjualan diambil bukan semata karena keinginan menjadi pedagang. Sebagai penyandang disabilitas netra yang hidup seorang diri di Yogyakarta, Gilang harus mencari cara agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sekaligus menanggung biaya operasional sehari-hari.

Gilang sendiri telah tinggal di Yogyakarta sejak 2004. Ia datang dari Brebes sejak masih duduk di bangku sekolah dasar dan sempat menempuh pendidikan di SLB serta tinggal di asrama.

Kini, Gilang tinggal seorang diri di sebuah indekos di kawasan Klitren, Yogyakarta.

Pada 2025, ia mulai berjualan kerupuk rambak. Pilihan tersebut diambil setelah mempertimbangkan biaya operasional. Berbeda dengan usaha sebelumnya, kerupuk rambak dikirim langsung ke indekosnya dari Solo sehingga Gilang tidak perlu mengeluarkan biaya untuk kulakan.

Ia hanya perlu mengeluarkan ongkos transportasi ojek online untuk menuju lokasi berjualan.

“Awalnya kayaknya banyak yang suka rambak ini. Penginnya sih rebranding, cuma belum ada modalnya,” ujar Gilang.

Menurut Gilang, omzet yang diperolehnya kini berkisar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu jika seluruh dagangan habis terjual. Namun, dagangannya tidak selalu ludes dalam sehari. Bahkan, pada hari-hari tertentu, penghasilannya tidak cukup untuk menutup biaya ojek online yang harus dikeluarkan.

“2025 itu awalnya lumayan. Makin ke sini agak turun. Tahun ini rata-rata Rp200-300 ribu kalau habis, cuma habisnya lama. Weekend saja nggak pasti. Kadang ya nggak cukup buat ojol, tapi ya sudah, nggak apa-apa,” tuturnya.

Ironisnya, setelah setahun berjuang mengandalkan berjualan kerupuk rambak, Gilang kini kembali menghadapi persoalan. Ia dilarang berjualan di Pasar Ngasem karena tidak memiliki los atau lapak resmi.

Pada Rabu (22/7/2026), Gilang terlihat berjualan di salah satu lapak milik warga yang kebetulan sedang tidak digunakan. Ia mengaku mendapat izin dari warga setempat tanpa harus membayar biaya sewa.

Gilang menyadari bahwa aturan tetap harus dipatuhi. Namun, ia berharap pemerintah tidak berhenti pada penertiban semata, melainkan turut menghadirkan solusi bagi penyandang disabilitas yang kesulitan mendapatkan pekerjaan.

“Namanya peraturan kan tetap peraturan, aku juga menyadari itu. Tapi kan aku juga butuh solusi. Sebenarnya jualan ini juga bukan murni keinginan sendiri,” katanya.

Gilang menegaskan, dirinya tidak sedang meminta belas kasihan. Ia hanya berharap mendapatkan kesempatan untuk bekerja dan mencari nafkah secara mandiri.

Ia bahkan berharap pemerintah dapat memfasilitasi dirinya, baik melalui kesempatan berjualan secara legal maupun membantu mencarikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan latar belakang pendidikannya.

“Tentu pengin difasilitasi, entah itu jualan atau pekerjaan. Pengin aku dari dulu, mudah-mudahan ya,” harapnya.

Sebagai anak bungsu dari enam bersaudara, Gilang sebenarnya masih memiliki keluarga di Brebes. Namun, ia memilih tetap bertahan di Yogyakarta. Baginya, kembali ke kampung halaman bukan solusi karena ia juga belum memiliki kepastian pekerjaan di sana.

“Nggak lah, di sini aja belum stabil pekerjaannya. Ada kakak sama ibu. Iya, masih ingin berjuang di Jogja. Kalau di sana mau ngapain?” ujarnya.

Perjuangan Gilang menjadi gambaran lain tentang sulitnya penyandang disabilitas mendapatkan akses pekerjaan yang layak. Gelar sarjana yang ia miliki belum cukup untuk membuka pintu pekerjaan, sementara pilihan untuk bertahan hidup dengan berjualan pun kini terbentur aturan.

Gilang tidak meminta uang maupun sembako. Ia hanya ingin bekerja.

Dan di balik kerupuk rambak yang ia jajakan setiap hari, ada harapan seorang sarjana difabel netra yang masih ingin membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri dengan kaki sendiri.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.