Indonesia kembali menghadapi paradoks bencana lingkungan. Saat musim hujan, sejumlah wilayah dihantam banjir dan membawa tumpukan kayu serta material dari kawasan hulu. Ketika kemarau tiba, ancaman justru berbalik menjadi kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan pergantian musim. BNPB masih mencatat kejadian banjir di tengah periode kemarau, sementara kebakaran hutan dan lahan menjadi salah satu ancaman utama di berbagai daerah.
Tahun 2026 bahkan membawa tantangan lebih berat. BMKG menyebut fenomena El Niño berpotensi membuat musim kemarau lebih kering dan panjang, sekaligus meningkatkan risiko kekeringan serta karhutla.
Dampaknya mulai terlihat. Reuters melaporkan hampir 95.000 hektare lahan di Indonesia terbakar hanya sepanjang Juli 2026, hampir dua kali lipat luas area yang terbakar selama enam bulan sebelumnya.
Ironisnya, ketika hujan datang, persoalan berubah menjadi banjir dan material kayu yang ikut hanyut. Saat matahari kembali terik, hutan dan lahan justru terbakar. Indonesia seolah terjebak dalam siklus bencana: ketika hujan datang membawa kayu, ketika kemarau datang membawa api.