Kamis, September 3, 2026

Prabowo ke Rusia di Tengah Bencana dan Harga Pangan Naik, Pakar Pertanyakan Urgensinya

JAKARTA — Di tengah pemerintah menghadapi berbagai persoalan di dalam negeri, mulai dari bencana hingga kenaikan harga pangan, kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia untuk menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) 2026 justru menuai kritik.

Pakar komunikasi politik Emrus Sihombing mempertanyakan urgensi kehadiran langsung Prabowo dalam forum tersebut. Menurutnya, agenda internasional seperti EEF dapat didelegasikan kepada Menteri Luar Negeri apabila kehadiran Presiden tidak menjadi keharusan.

“Kalau menurut saya, Pak Prabowo hadir di suatu agenda acara di Rusia, saya kira bisa saja itu diwakilkan oleh Menteri Luar Negeri. Situasi negara kita kan sedang ada hal-hal yang kita hadapi, terutama di bidang perekonomian, dan kita kan akan menghemat di semua bidang,” ujar Emrus, Kamis (3/9/2026).

Emrus juga menyoroti besarnya biaya yang dibutuhkan untuk kunjungan seorang kepala negara. Menurutnya, perjalanan Presiden melibatkan pesawat khusus, pengamanan, serta rombongan pendukung sehingga membutuhkan anggaran lebih besar dibandingkan perjalanan seorang menteri.

“Seorang Presiden berangkat ke luar negeri biayanya jauh lebih besar dibanding sebagai seorang Menteri Luar Negeri. Menteri Luar Negeri kan bisa berangkat dengan pesawat komersial, sementara Presiden kan harus berangkat dengan satu pesawat khusus, tim, segala pengawal, dan lain-lain sebagainya,” jelasnya.

Meski mengkritik, Emrus tidak menutup kemungkinan Prabowo memiliki pertimbangan strategis yang tidak diketahuinya sehingga memilih hadir langsung di Rusia. 

“Tapi boleh jadi Bapak Presiden Prabowo Subianto ada pertimbangan lain sebagai Kepala Negara, terus terang saya tidak tahu,” tambahnya.

Sorotan terhadap kunjungan tersebut muncul ketika tekanan ekonomi domestik juga meningkat. BPS mencatat inflasi tahunan Agustus 2026 mencapai 3,19 persen, naik dari 2,88 persen pada Juli. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu pendorong dengan inflasi 3,86 persen.

Ekonom INDEF Abra Talattov mengatakan tekanan inflasi pangan terutama berasal dari daging ayam, beras, serta cabai. Harga pakan ayam bahkan naik 14,5 persen, dari Rp8.300 menjadi Rp9.500 per kilogram, sehingga ikut meningkatkan biaya produksi peternak.

Di sisi lain, permintaan ayam juga meningkat, salah satunya karena kebutuhan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah libur sekolah serta momentum Maulid Nabi. Kondisi tersebut membuat persaingan mendapatkan pasokan pangan semakin ketat, sementara pelaku penggilingan padi juga menghadapi tantangan memperoleh gabah.

Berbagai kondisi tersebut kemudian menjadi sorotan terhadap prioritas pemerintah. Di tengah tuntutan efisiensi, bencana di sejumlah daerah, serta tekanan harga pangan, kehadiran Prabowo dalam forum internasional di Rusia dinilai perlu dipertimbangkan dari sisi urgensi dan penggunaan anggaran.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.