Saat asap karhutla masih menyelimuti Kalimantan dan upaya pemadaman belum sepenuhnya tuntas, promosi pameran sawit justru ramai beredar.
Poster IPOSC 2026 yang mengajak masyarakat menghadiri pameran sawit terbesar di Kubu Raya, Kalimantan Barat, menuai kritik dari publik.
Poster tersebut diunggah melalui akun Instagram @iposc_2026 dan juga terlihat terpampang di sejumlah pinggir jalan. Dalam poster itu tercantum agenda Medbun Expo & 6th Indonesian Palm Oil Smallholders Conference (IPOSC) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 22-23 September 2026.
Acara tersebut mengusung tema “Peran Smallholder dalam Hilirisasi Sawit dan EUDR” dan akan digelar di Hotel Q Qubu Resort, Kubu Raya. Salah satu peserta pameran yang dipromosikan adalah PT Menthobi Hijau Lestari di Booth C16.
Poster juga mencantumkan dukungan dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI serta Direktorat Jenderal Perkebunan.
Promosi tersebut kemudian memicu komentar dan kemarahan publik. Sorotan muncul karena Kalimantan masih menghadapi persoalan karhutla, dengan asap yang berdampak terhadap kualitas udara dan aktivitas masyarakat.
Di tengah kondisi tersebut, kemunculan promosi pameran yang berkaitan dengan industri sawit dinilai sebagian warganet kurang sensitif terhadap situasi lingkungan yang sedang terjadi.
Kritik juga tidak lepas dari kekhawatiran mengenai dampak pembukaan lahan untuk perkebunan sawit terhadap lingkungan. Persoalan deforestasi, hilangnya habitat satwa, hingga ancaman terhadap ekosistem menjadi isu yang kembali disorot.
Bagi publik yang tengah merasakan dampak asap karhutla, promosi pameran sawit di tengah situasi tersebut dianggap menghadirkan kontras yang sulit diabaikan, ketika masyarakat masih berjuang menghirup udara bersih, industri sawit justru tengah bersiap memamerkan peluang bisnisnya.