MEDAN — Peringatan Hari Tani Nasional yang diinisiasi oleh DPD Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sumatera Utara (Sumut) berujung tegang. Aksi penyampaian aspirasi tersebut memanas setelah massa yang tengah melakukan longmarch diduga mendapat penghadangan dari sejumlah prajurit TNI tepat di depan Markas Komando Distrik Militer (Makodim).
Berdasarkan keterangan massa aksi, upaya penghadangan tersebut berujung pada aksi saling dorong ketika pengunjuk rasa berusaha menembus barikade untuk melanjutkan perjalanan. Insiden fisik ini berdampak fatal, di mana seorang ibu petani yang turut serta dalam barisan dilaporkan jatuh tersungkur.
Situasi di lapangan justru semakin eskalatif ketika sejumlah prajurit TNI disebut melakukan aksi berjoget di hadapan massa yang tengah meluapkan kekecewaannya. Tindakan aparat tersebut menuai kecaman keras dari peserta aksi karena dinilai provokatif, tidak pantas, dan seolah mengolok-olok perjuangan petani di tengah situasi yang sedang memanas.
Peserta aksi sangat menyayangkan sikap aparat yang dianggap melenceng dari tugas utamanya. Mereka menegaskan bahwa peringatan Hari Tani Nasional seharusnya menjadi ruang aman bagi suara petani, bukan justru direpresi menjadi ruang intimidasi dan gesekan fisik.
Kini, massa aksi dan publik menuntut penjelasan serta pertanggungjawaban yang transparan dari pihak berwenang atas dugaan insiden pendorongan tersebut. Massa mengingatkan bahwa aparat sejatinya hadir untuk mengamankan dan mengawal jalannya penyampaian aspirasi, bukan justru menjadi garda penghalang bagi rakyat yang datang membawa tuntutan.