Selasa, November 3, 2026

Titik Panas Terbanyak se-Indonesia! 903 Titik Panas Kepung Papua Selatan, BNPB Soroti Lahan Konsesi Sawit Swasta

MERAUKE — Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Papua Selatan masih jauh dari kata usai. Hingga 31 Oktober 2026, tercatat masih ada 217 hektar lahan yang hangus terbakar dan belum berhasil dipadamkan. 

Merespons krisis ini, pemerintah memutuskan untuk terus mengintensifkan penanganan dengan memperpanjang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga 5 November 2026 mendatang. Apalagi, data BMKG menunjukkan Papua Selatan masih menyandang status sebagai daerah dengan sebaran titik panas (hotspot) terbanyak di Indonesia, menyentuh angka 903 titik.

Kepala BNPB Letnan Jenderal Kristomei Sianturi bersama Kepala BMKG Teuku Faisal langsung turun gunung meninjau lokasi di Merauke. Dari hasil pantauan udara, terungkap bahwa sebagian besar wilayah kebakaran terpusat di kluster Jago Merah-Tanah Miring. 

Namun, yang paling menjadi sorotan BNPB adalah temuan konsentrasi titik api yang sangat tinggi di area konsesi milik salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit swasta di wilayah Okaba. 

”Dari hasil pemantauan selama tiga hari terakhir, titik api paling banyak terlihat di wilayah konsesi perusahaan (kelapa sawit di Merauke) itu,” tegas Kristomei, menuntut agar temuan ini segera diverifikasi dan ditindak di lapangan.

Di sisi lain, Kepala Seksi Wilayah II Balai Pengendalian Karhutla Maluku-Papua, Arif Hasan, menyoroti masifnya pembukaan lahan di area perbatasan yang berpotensi memicu api baru. 

”Kami sempat memantau di wilayah perbatasan (Indonesia-Papua Niugini), ada pembukaan lahan untuk pertanian rakyat ini. Lahan yang dibabat sangat luas. Tidak semua pohon yang dibabat ini bisa dibersihkan, pasti sebagian besar akan dibakar. Ini yang perlu juga untuk diedukasi dan perlu koordinasi instansi daerah terkait,” tuturnya. 

Sementara itu, modifikasi cuaca mulai membuahkan hujan. Meski begitu, Kepala BMKG Teuku Faisal mewanti-wanti agar takaran curah hujan buatan ini diatur presisi. 

”Air tidak boleh terlalu banyak dan tidak boleh terlalu sedikit. Seperti yang terjadi di Sumatera beberapa waktu lalu, curah hujan pernah lebih dari 100 milimeter dan kondisi tersebut dapat menyebabkan banjir,” pungkas Faisal.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.