NAGEKEO, NTT — Setelah lebih dari sepekan gempa dahsyat mengguncang Nusa Tenggara Timur, Presiden Prabowo Subianto akhirnya datang langsung ke wilayah terdampak. Bukan tanpa alasan, Prabowo mengaku sengaja menahan diri untuk tidak datang pada hari-hari awal bencana.
Keputusan itu, menurut Prabowo, diambil agar penanganan di lapangan tidak terganggu oleh kehadiran pejabat pusat. Ia ingin setiap instansi dapat berkonsentrasi penuh melayani masyarakat dan menangani kondisi darurat.
“Memang sengaja saya di awal-awal saya tidak mau datang karena saya mau beri kesempatan semua instansi melayani rakyat langsung. Kadang-kadang kalau pejabat pusat datang, terpecah konsentrasi,” ujar Prabowo saat memimpin rapat penanganan gempa di Nagekeo, Kamis (27/8/2026).
Prabowo menegaskan, meski tidak langsung hadir secara fisik, pemerintah pusat tetap memantau perkembangan situasi dan mengerahkan bantuan bagi masyarakat terdampak.
“Kalau kita datang, terus hanya lihat, tapi enggak bisa mengatasi, enggak bisa kirim bantuan, ya itu akhirnya kurang efektif,” katanya.
Pimpin Rapat dari Posko Bencana
Prabowo memimpin rapat penanganan bencana dari sebuah tenda di Posko Batalion Teritorial Pembangunan Kabupaten Nagekeo. Sejumlah pejabat turut hadir, di antaranya Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Mendagri Tito Karnavian, Mensesneg Prasetyo Hadi, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, serta Kepala BNPB Suharyanto.
Gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026. Hingga 25 Agustus, pemerintah mencatat 103 orang meninggal dunia dan 1.666 orang mengalami luka-luka.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari koordinasi langsung pemerintah pusat untuk memastikan penanganan bencana dan distribusi bantuan kepada masyarakat terdampak terus berjalan.