Kamis, Juli 23, 2026

BEM SI Tantang Pemerintah, Tetap Turun ke Jalan dengan 9 Tuntutan

MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Gelombang aksi mahasiswa kembali menggema di Ibu Kota. Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menegaskan tidak akan mundur meski ada imbauan untuk menunda aksi. Hari ini, Kamis (20/2/2025), ribuan mahasiswa siap menggelar demonstrasi besar di sekitar kawasan Patung Kuda Arjuna Wiwaha, Jakarta Pusat.

Koordinator Pusat BEM SI, Herianto, memastikan aksi ini tetap berlangsung meski bertepatan dengan pelantikan kepala daerah di Istana Kepresidenan. Menurutnya, justru momen ini harus dimanfaatkan untuk menyampaikan suara rakyat secara lantang.

“Kami tidak akan membatalkan aksi. Ini bukan sekadar demo biasa, ini bentuk perlawanan terhadap kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat,” tegas Herianto dalam pernyataannya, Kamis pagi.

BEM SI menetapkan titik kumpul di IRTI Monas pukul 13.00 WIB sebelum bergerak menuju Patung Kuda. Massa diperkirakan akan mulai long march pada pukul 14.00 WIB dengan membawa sembilan tuntutan utama.

Dalam daftar tuntutan tersebut, mahasiswa mendesak pemerintah untuk mengkaji ulang Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 yang dinilai bermasalah. Mereka juga menuntut transparansi status pembangunan serta penggunaan pajak rakyat.

Selain itu, kebijakan makan bergizi gratis yang digagas pemerintah juga dipertanyakan efektivitasnya. Mahasiswa meminta evaluasi besar-besaran terhadap program tersebut untuk memastikan tidak ada penyimpangan anggaran.

“Kami tidak ingin kebijakan ini hanya jadi alat politik semata. Harus ada jaminan bahwa implementasinya benar-benar berpihak pada rakyat kecil,” ujar salah satu peserta aksi.

Isu pertambangan juga masuk dalam sorotan mahasiswa. Mereka menolak revisi Undang-Undang Mineral dan Batubara (UU Minerba) yang dinilai menguntungkan segelintir elite. Tak hanya itu, penolakan terhadap dwifungsi TNI juga menjadi salah satu poin utama dalam tuntutan mereka.

Tuntutan lainnya adalah percepatan pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM berat yang selama ini mandek.

BEM SI juga secara tegas menolak campur tangan mantan Presiden Jokowi dalam pemerintahan Prabowo Subianto. Mereka menilai intervensi tersebut mencederai demokrasi dan menghambat transisi pemerintahan yang sehat.

“Kita tidak boleh membiarkan ada bayang-bayang kekuasaan lama yang masih ikut mengendalikan pemerintahan,” kata Herianto.

Sementara itu, aparat kepolisian telah bersiaga mengantisipasi jalannya aksi. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi, mengimbau agar masyarakat tetap menjaga ketertiban, terutama di sekitar Istana Negara.

“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga suasana kondusif. Ini acara kenegaraan yang harus kita hormati,” ujarnya.

Ade Ary juga meminta massa aksi untuk tidak menggelar demonstrasi di sekitar Istana selama prosesi pelantikan berlangsung. Menurutnya, langkah ini demi menjaga kelancaran acara dan ketertiban umum.

Namun, mahasiswa tampaknya tidak menggubris imbauan tersebut. Mereka tetap bertekad turun ke jalan dengan membawa pesan perlawanan.

Hingga pukul 10.00 WIB, massa dari berbagai kampus mulai berdatangan ke Jakarta. Mereka datang dengan atribut aksi, spanduk, serta poster berisi kritik terhadap pemerintah.

Beberapa peserta aksi mengungkapkan bahwa mereka tidak akan gentar meski ada potensi pembubaran paksa. “Ini adalah hak demokrasi kami. Pemerintah harus mendengar suara rakyat,” kata salah satu mahasiswa dari Universitas Indonesia.

Di sisi lain, pihak panitia pelantikan kepala daerah memastikan acara tetap berjalan sesuai jadwal. Pelantikan oleh Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan berlangsung pukul 10.00 WIB di Istana Negara.

Kawasan Monas dan sekitarnya dipadati aparat keamanan yang berjaga ketat. Beberapa ruas jalan telah ditutup untuk mengantisipasi kemungkinan bentrokan antara demonstran dan pihak keamanan.

Dengan semangat yang terus membara, mahasiswa bertekad bahwa aksi ini bukan sekadar unjuk rasa biasa. Ini adalah bentuk perlawanan terhadap kebijakan yang dianggap merugikan rakyat.

“Kami akan terus bergerak sampai tuntutan kami didengar,” tegas seorang orator di tengah kerumunan.

Jakarta hari ini menjadi saksi benturan antara suara mahasiswa dan kebijakan pemerintah. Apakah tuntutan mereka akan digubris? Ataukah aksi ini hanya akan menjadi gema di tengah hiruk-pikuk politik kekuasaan? Jawabannya ada di tangan mereka yang berani bersuara. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.