Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora berkomitmen penuh mendorong pengembangan pertanian organik sebagai solusi mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan sekaligus ramah lingkungan.
Langkah ini mendapat dukungan penuh dari Bupati Blora, Arief Rohman. Ia menegaskan pertanian organik tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan konsumen, tetapi juga mampu memperbaiki kualitas tanah.
”Kami ingin Blora menjadi salah satu sentra pertanian organik di Jawa Tengah. Potensi lahan dan komitmen para petani menjadi modal utama untuk mengembangkan sektor ini,” ujar Bupati Arief di rumah dinas Pendopo, Minggu (7/9/2025).
Arief juga menyoroti nilai ekonomi tinggi dari produk organik yang semakin diminati pasar, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Karena itu, ia berencana mendorong setiap desa menyediakan lahan bengkok minimal satu hektare sebagai lokasi uji coba pertanian organik.
”Jika satu desa bisa menyediakan 1 hektare tentunya di Blora ini ada 295 desa/kelurahan yang bisa ada juga 295 hektare pertanian organik,” tambahnya.
Untuk mempercepat program ini, Pemkab Blora tengah menjajaki kerja sama dengan sejumlah BUMN seperti Pertamina, serta menggandeng Nahdlatul Ulama (NU) melalui PC NU Kabupaten Blora untuk memberikan pendampingan langsung kepada para petani.
”Kami ingin NU, khususnya LPPNU, terus menggerakkan semangat petani organik di setiap desa. Blora harus menjadi kabupaten percontohan di bidang pertanian organik,” tegas Bupati.
Arief juga menyoroti inovasi lokal seperti program Gerakan Sedekah Kotoran Sapi (GESEKKU) yang sukses menghantarkan Blora meraih predikat Kabupaten Terinovatif dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
”Program ini bisa kita tingkatkan lagi, terlebih Blora ini juga menjadi salah satu penghasil ternak terbesar di Jawa Tengah,” imbuhnya.