Wakil Presiden ke-13 sekaligus Mustasyar PBNU, KH Ma’ruf Amin, mengungkapkan kriteria yang harus dimiliki calon Ketua Umum PBNU. Salah satunya adalah kemampuan mendamaikan pihak-pihak yang bersengketa demi menjaga persatuan di tubuh NU.
Hal itu disampaikan Ma’ruf usai menghadiri Halaqah Kebangsaan dan Qanun Asasi di Kompleks Parlemen, Jakarta, Sabtu (8/8/2026).
“Harus punya kemampuan melakukan dua hal al-ishlah wal-ishlah. Ishlah pertama itu mendamaikan semua kelompok yang bersengketa, karena tanpa persatuan tidak mungkin,” kata Ma’ruf.
Selain itu, calon ketum NU harus mampu menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Ma’ruf juga berharap pemimpin baru dapat meningkatkan kualitas NU dan mengembalikan organisasi sesuai khittah serta Qanun Asasi.
“Supaya ber-NU itu lebih pada kualitas. Ya, artinya pemahaman, bukan sekadar ikut-ikutan,” ujarnya.
Kriteria tersebut disampaikan di tengah persiapan Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Agustus 2026. Forum tersebut akan menjadi momentum bagi warga NU untuk menentukan sosok yang akan memimpin PBNU ke depan.
Sejumlah nama telah disebut-sebut berpotensi maju, di antaranya Menteri Agama Nasaruddin Umar, Zulfa Mustofa, Gus Yusuf Chudlori, Gus Salam Shohib, Gus Kikin, serta Ketua Umum PBNU petahana Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Sekjen PBNU Saifullah Yusuf sebelumnya menyebut NU tidak kekurangan kader yang memiliki kapasitas untuk memimpin organisasi.
Saat ditanya mengenai sosok yang memenuhi kriteria tersebut, Ma’ruf enggan menyebut nama tertentu.
“Nama itu, itu kita tidak bisa, kita lihat kemampuannya,” katanya.
Kini, pilihan berada di tangan peserta Muktamar untuk menentukan sosok yang mampu menyatukan NU dan membawa organisasi ke arah yang lebih baik.