MELIHAT INDONESIA, BANDUNG – Lalapan, hidangan sederhana yang terdiri dari berbagai sayuran segar, sudah menjadi bagian penting dalam kebudayaan kuliner masyarakat Sunda sejak zaman dahulu. Tidak hanya sekadar makanan, konsumsi lalapan mencerminkan hubungan yang harmonis antara manusia dan alam yang dianut oleh orang Sunda.
Sejarah Lalapan dalam Budaya Sunda
Kegemaran orang Sunda terhadap lalapan ternyata sudah ada sejak abad ke-10 Masehi. Dalam Prasasti Taji yang ditemukan di Ponorogo pada tahun 901 Masehi, disebutkan sajian bernama ‘Kuluban Sunda,’ yang merujuk pada lalapan. Ini menunjukkan bahwa lalapan bukan hanya bagian dari kuliner, tetapi juga warisan budaya yang sudah lama ada di Indonesia.
Pada masa penjajahan, dua orang Belanda, Dr. JJ. Ochse dan Dr. RC. Backhiuzen van den Brink, juga mendokumentasikan berbagai jenis lalapan dalam buku Indische Groenten yang diterbitkan pada 1931. Buku ini menyebutkan bahwa lalapan tidak hanya terbatas pada daun-daunan, tetapi juga mencakup umbi-umbian, bunga, dan biji-bijian, yang memperkaya variasi hidangan ini.
Lalapan dan Pola Hidup Sederhana
Di masyarakat Sunda, lalapan tidak hanya sekadar makanan, tetapi mencerminkan pola hidup yang sederhana dan menyatu dengan alam. Kebiasaan mengonsumsi sayuran segar yang mudah didapatkan menggambarkan filosofi hidup orang Sunda yang menghargai alam dan segala isinya. Unus Suriawiria, seorang pakar mikrobiologi, dalam makalahnya menjelaskan bahwa lebih dari 65 persen makanan Sunda berasal dari tumbuhan. Ini menunjukkan kedekatan orang Sunda dengan alam dan pentingnya keberagaman sumber daya alam dalam kehidupan mereka.
Keharmonisan dengan Alam
Orang Sunda percaya bahwa hidup harus seimbang dengan alam. Oleh karena itu, mereka cenderung mengonsumsi bahan-bahan alami yang mudah diperoleh dari lingkungan sekitar, seperti daun singkong, kemangi, hingga bunga kenikir dan honje. Dalam budaya Sunda, makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan yang mendalam, termasuk hubungan yang harmonis dengan alam.
Praktis dan Bergizi
Selain filosofi dan sejarahnya, lalapan juga populer karena praktis dan bergizi. Sayuran segar yang disajikan dengan sambal atau bumbu kacang memberikan rasa yang menyegarkan sekaligus kaya akan nutrisi. Misalnya, karedok yang menggunakan bahan utama leunca dan kacang panjang, atau lotek dengan bahan dasar sayuran rebus yang disiram bumbu kacang. Sajian ini tidak membutuhkan proses memasak yang rumit, menjadikannya pilihan praktis bagi banyak orang Sunda dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi banyak orang Sunda, makan lalapan adalah cara untuk menghargai keberagaman alam dan memperkuat koneksi mereka dengan lingkungan. Lalapan bukan hanya soal konsumsi makanan, tetapi juga tentang bagaimana hidup dengan cara yang lebih sederhana, sehat, dan seimbang. (**)