Selasa, Mei 19, 2026

Penerus Takhta Suci, Akankah Paus Baru Datang dari Asia Tenggara?

MELIHAT INDONESIA, VATIKAN – Kepergian Paus Fransiskus pada Senin (21/4) mengejutkan dunia dan langsung menyalakan bara spekulasi: siapa yang akan memimpin Gereja Katolik berikutnya?

Kini sorotan beralih ke Vatikan, tempat di mana para kardinal dunia akan berkumpul untuk menentukan pemimpin baru umat Katolik sejagat. Beberapa nama mencuat, dan menariknya, sejumlah calon berasal dari wilayah yang selama ini jarang disentuh takhta suci: Asia dan Afrika.

Nama-nama seperti Luis Antonio Tagle dari Filipina, Peter Turkson dari Ghana, hingga Pietro Parolin dari Italia, menjadi perbincangan hangat di kalangan Vatikan dan pengamat Gereja.

Luis Antonio Tagle, kardinal asal Filipina yang dikenal dengan pendekatan rendah hati dan pemikiran progresif, disebut-sebut sebagai figur paling potensial dari Asia. Ia dijuluki sebagai “Fransiskus dari Asia” karena gaya kepemimpinannya yang mencerminkan semangat reformasi Paus Fransiskus.

Tagle telah lama menjadi sorotan karena hidupnya yang sederhana. Ia tinggal di seminari tanpa pendingin ruangan, menolak mobil dinas, dan memilih naik bus atau jeepney. Di kalangan Vatikan, ia dianggap sebagai kandidat favorit dari Paus Fransiskus sendiri.

Namun, usianya yang relatif muda—67 tahun—menjadi ganjalan. Para kardinal cenderung enggan memilih paus muda karena masa jabatannya bisa sangat panjang, yang berarti menutup peluang bagi calon-calon lainnya di masa mendatang.

Dari Afrika, Peter Turkson menjadi nama kuat lainnya. Lahir di Ghana dan dikenal sebagai penasihat utama Paus Fransiskus dalam isu lingkungan dan keadilan sosial, Turkson bisa menjadi paus kulit hitam pertama dalam sejarah Gereja.

Turkson memiliki rekam jejak panjang dalam kepemimpinan Gereja, mulai dari Uskup Agung Cape Coast hingga menjadi kepala akademi kepausan. Meski sempat mengundurkan diri dari jabatannya pada 2021, ia masih memegang pengaruh besar dan aktif di panggung internasional.

Meski begitu, langkahnya juga menuai kritik. Sebagian menilai kemunculannya yang sering di media seolah mengisyaratkan ambisi pribadi menuju tahta tertinggi.

Dari Eropa, nama Peter Erdo dari Hungaria muncul sebagai pilihan konservatif. Ia dikenal sebagai ahli hukum Gereja yang tegas, dan memiliki pendirian kuat terhadap isu-isu keimanan. Erdo dianggap sebagai “penjaga gerbang” nilai-nilai tradisional Gereja Katolik.

Ia pernah menarik perhatian saat bersikap berbeda dengan Paus Fransiskus dalam isu pengungsi pada 2015. Saat itu, Erdo menyatakan bahwa menerima pengungsi bisa dianggap sebagai bentuk perdagangan manusia, pandangan yang selaras dengan pemimpin nasionalis Hungaria, Viktor Orban.

Dari internal Vatikan sendiri, ada nama Pietro Parolin, Sekretaris Negara sekaligus ‘perdana menteri’ de facto Vatikan. Parolin dikenal sebagai diplomat ulung, dan dianggap sebagai arsitek utama dari kebijakan luar negeri Vatikan selama dekade terakhir.

Namun reputasinya sempat tercoreng karena keterlibatannya dalam skandal investasi properti di London. Meskipun proses hukum masih berlangsung, kasus ini bisa menjadi batu sandungan serius dalam peluangnya menjadi paus.

Selain keempat nama itu, terdapat beberapa sosok lain yang tak kalah menonjol. Kardinal Jose Tolentino de Mendonca dari Portugal, Kardinal Matteo Zuppi dari Italia, dan Kardinal Mario Grech dari Malta, masing-masing memiliki karakter dan basis dukungan yang kuat, baik dari kaum progresif maupun konservatif Gereja.

Satu nama lain dari Afrika, Kardinal Robert Sarah dari Guinea, juga masuk dalam daftar. Ia dikenal karena sikapnya yang konservatif dan kritik keras terhadap ideologi modern, termasuk soal gender dan sekularisme.

Kendati begitu, belum ada tanda pasti siapa yang akan terpilih. Proses konklaf masih akan berlangsung secara tertutup, diiringi doa dan perenungan dari para kardinal terpilih.

Namun, pertanyaan besar tetap menggantung di udara: akankah untuk pertama kalinya dalam sejarah, paus baru datang dari negeri tetangga Indonesia?

Jika itu terjadi, bukan hanya akan menjadi tonggak sejarah bagi Asia Tenggara, tetapi juga simbol kuat perubahan wajah Gereja Katolik yang semakin mendekat ke arah Selatan dunia. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.