Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah serangkaian dugaan keracunan terjadi di berbagai daerah dalam kurun sekitar satu bulan terakhir. Kasus dilaporkan di Blora, Kulon Progo, Garut, Jepara, Semarang hingga Kabupaten Jayapura, Papua. Ratusan penerima manfaat mengalami gejala seperti mual, muntah, diare, pusing, dan sakit perut usai mengonsumsi makanan MBG. Namun hingga kini, belum ada pihak yang ditetapkan sebagai tersangka.
Kasus pertama terjadi di Blora, Jawa Tengah, ketika 19 siswa SDN Sendangrejo, Kecamatan Ngawen, mengalami gejala dugaan keracunan setelah menyantap menu MBG dari SPPG Bogowanti. Operasional dapur dihentikan sementara, sementara polisi dan dinas kesehatan melakukan penyelidikan serta pengujian sampel makanan.
Tak lama berselang, dugaan keracunan juga terjadi di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedikitnya 105 penerima manfaat, terdiri dari siswa, guru, ibu hamil, dan ibu menyusui, mengalami keluhan kesehatan usai mengonsumsi menu MBG. Investigasi Dinas Kesehatan menemukan sejumlah faktor risiko, termasuk jeda waktu penyajian makanan yang cukup lama dan dugaan belum optimalnya penerapan higiene sanitasi di dapur penyedia.
Di Garut, Jawa Barat, sekitar 100 santri di Kecamatan Cibatu mengalami gejala dugaan keracunan setelah menyantap makanan MBG. Pemerintah Kabupaten Garut menghentikan sementara operasional dapur penyedia untuk kepentingan investigasi, sementara Badan Gizi Nasional melakukan evaluasi terhadap proses penyediaan makanan.
Kasus berikutnya muncul di Jepara, Jawa Tengah, saat ratusan siswa SMPN 2 Jepara mengalami gangguan pencernaan setelah mengonsumsi menu MBG. Dinas Kesehatan bersama pihak sekolah melakukan penanganan terhadap para siswa dan mengirimkan sampel makanan ke laboratorium guna mengetahui penyebab pasti kejadian.
Terbaru di Semarang, Jawa Tengah, sebanyak 707 orang, terdiri dari 693 siswa dan 14 guru SMKN 6 Semarang, dilaporkan mengalami gejala dugaan keracunan usai menyantap menu MBG. Badan Gizi Nasional menghentikan sementara operasional SPPG Karangturi. Investigasi awal menduga makanan dimasak terlalu dini sehingga waktu penyimpanannya terlalu lama sebelum dibagikan kepada para penerima manfaat.
Rangkaian kasus tersebut berlanjut di Kabupaten Jayapura, Papua, tepatnya di Distrik Depapre. Sejumlah siswa dari beberapa sekolah mengalami gejala seperti mual, muntah, sakit perut, hingga lemas setelah mengonsumsi makanan MBG. Badan Gizi Nasional menyatakan salah satu dugaan yang tengah didalami adalah proses memasak makanan pada malam hari sehingga rentang waktu distribusi menjadi terlalu panjang.
Meski investigasi terus dilakukan di masing-masing daerah dan sejumlah dapur SPPG telah dihentikan sementara, hingga kini belum ada pihak yang ditetapkan sebagai tersangka. Rentetan dugaan keracunan tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai efektivitas pengawasan keamanan pangan serta pertanggungjawaban dalam pelaksanaan program MBG.