JAKARTA — Kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terulang dan memakan korban puluhan siswa di Bogor serta Cirebon. Insiden yang memicu mual dan sakit perut massal pada Senin (26/10/2026) ini memaksa Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, turun tangan memberikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf terbuka.
Siswa dari SMPN 1 dan SMPN 2 Dramaga, Kabupaten Bogor, dilaporkan tumbang usai menyantap menu nasi, orek tempe, sate ayam, dan buah. Kepala Dapur SPPG Bogor Dramaga 4, M. Ilyas Abdi Perkasa, mengonfirmasi bahwa banyak anak didik yang terpaksa absen sekolah karena mengalami sakit perut hebat hingga dini hari usai mengonsumsi paket makanan tersebut.
Menanggapi rentetan insiden ini, Sudaryono membeberkan hasil evaluasi sementara. Dugaan kuat mengarah pada kecerobohan pihak dapur umum yang membeli bahan makanan setengah jadi dari pihak ketiga. Kasus di Cirebon dipicu oleh pembelian telur puyuh kupas matang, sementara di Bogor diduga kuat berasal dari bumbu kacang sate yang sudah jadi.
“Itu kan tidak bisa kita kendalikan dia masak telur puyuhnya direbus kapan, dikupas kapan, disimpan di mana… Dan ini diulangi kemungkinan yang di Bogor ini adalah karena dia beli bumbu kacang satenya itu barang jadi. Bersih enggak bersih, enggak bisa dipastikan,” tegas Sudaryono di Kantor Kemendagri, Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Sebagai pimpinan BGN, Sudaryono mengaku sangat terpukul melihat insiden ini kembali terjadi.
“Terkait kasus kejadian menonjol ya di Bogor dan ada yang sebelum-sebelumnya juga ya. Saya jujur saja juga sedih ya, dan juga menyesal dengan adanya itu,” kata Sudaryono.
Ia menegaskan bahwa sejak awal menjabat, fokus utamanya adalah prinsip zero tolerance terhadap kelalaian keamanan pangan. Nyawa dan kesehatan penerima manfaat adalah prioritas mutlak di atas sekadar pencapaian target statistik.
Juru Bicara BGN, Tysa Novenny, turut menyampaikan permohonan maaf resmi dan memastikan tim BGN Pusat bersama Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) setempat telah turun ke lapangan. Saat ini, sampel bumbu kacang dan makanan lainnya telah dibawa ke laboratorium untuk dilakukan investigasi menyeluruh.
Insiden beruntun ini menjadi alarm keras bagi pengelola program untuk segera membenahi standar operasional kebersihan di seluruh rantai pasok dapur agar kesehatan siswa tak lagi menjadi taruhan.