Tuntutan 17+8 dalam demo beberapa hari terakhir ini menguap ke ruang publik, diantaranya ditujukan untuk Tentara Nasional Indonesia (TNI), yakni sebagai berikut :
- Segera kembali ke barak, hentikan keterlibatan dalam pengamanan sipil.
- Tegakkan disiplin internal agar anggota TNI tidak mengambil alih fungsi Polri.
- Komitmen publik TNI untuk tidak memasuki ruang sipil selama krisis demokrasi.
Lalu bagaimana dengan keterlibatan TNI di ruang sipil seperti dalam ketahanan pangan hingga pendidikan? Apakah hal tersebut tidak keluar dari tugas bidang yang seharusnya diemban TNI?
Hal tersebut tergambar dalam upaya menjalankan Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah yang disampaikan oleh kemensos.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul melakukan kunjungan kerja ke Sekolah Rakyat (SR) 19 Sonosewu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Selasa (9/9/2025). Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa Kementerian Sosial (Kemensos) membutuhkan dukungan TNI dan Polri dalam pengelolaan Sekolah Rakyat.
“Kami sudah melakukan evaluasi, termasuk menjaga kesehatan anak melalui gizi, membiasakan olahraga, dan menanamkan disiplin. Tapi evaluasi ini butuh waktu dan dukungan pihak lain,” jelas Gus Ipul.
Meski secara umum berjalan baik, program Sekolah Rakyat masih menghadapi berbagai kendala. Mulai dari keterbatasan sarana prasarana seperti dapur, toilet, air bersih, hingga minimnya tenaga pengajar dan pengasuh.
“Kalau ada kekurangan wali asuh, wali asrama, atau sekuriti, semua akan dipenuhi secara bertahap,” kata Gus Ipul.
Ia juga menegaskan larangan keras terhadap praktik perundungan, kekerasan fisik maupun seksual, serta intoleransi di lingkungan sekolah.
Untuk memperluas akses pendidikan, Kemensos menargetkan pembentukan 65 Sekolah Rakyat baru yang akan tersebar di seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Papua. “Kami ingin semua provinsi terjangkau meskipun ada beberapa yang belum,” ungkapnya.
Sebelumnya, saat meninjau Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 14 di Kota Batu, Jawa Timur, pada Senin (8/9/2025), Gus Ipul juga menemukan kekurangan mendasar yang masih harus dibenahi. Namun, ia optimistis semua permasalahan akan diselesaikan secara bertahap.