BANDA ACEH — Suasana peringatan 21 tahun Hari Damai Aceh di Kota Banda Aceh memanas. Kegiatan yang awalnya diisi zikir dan doa bersama berubah ricuh setelah sejumlah massa mengibarkan bendera Bulan Bintang di kompleks Masjid Raya Baiturrahman, Sabtu.
Sejumlah orang terlihat membawa bendera Bulan Bintang sambil berjalan di sekitar halaman masjid. Massa juga membawa bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan bendera putih.
Bendera Bulan Bintang turut dipasang di atas salah satu gapura di tengah halaman Masjid Raya Baiturrahman. Bahkan, seorang warga terlihat menaiki tangga yang biasa digunakan untuk perawatan payung elektrik guna memasang bendera tersebut.
Situasi semakin menjadi perhatian setelah massa menurunkan bendera Merah Putih dan menggantinya dengan bendera Bulan Bintang. Di tengah kegiatan doa dan zikir, massa juga terdengar meneriakkan kata “merdeka”.
Aksi tersebut kemudian memicu ketegangan dengan aparat. Sejumlah polisi yang memasuki halaman masjid sempat dilempari gelas dan botol air mineral oleh massa hingga mereka berlari keluar dari area masjid.
Tak lama kemudian terdengar beberapa kali letusan. Massa bergerak ke arah aparat dan melempari polisi yang mengenakan perlengkapan pengamanan serta tameng menggunakan batu.
Polisi sempat memberikan imbauan melalui mobil pengeras suara agar massa menghentikan pelemparan dan membubarkan diri. Namun, imbauan tersebut tidak digubris.
Aparat kemudian menyemprotkan air ke arah massa. Karena kericuhan masih berlangsung, polisi akhirnya menembakkan gas air mata. Massa pun berpencar dan aksi pelemparan berhenti.
Sementara itu, salah seorang peserta doa dan zikir, M Jamil, mengaku datang dari Kabupaten Pidie Jaya setelah mendapat ajakan dari kalangan ulama.
“Kami mengikuti ajakan ulama untuk berdoa dan zikir bersama mendoakan perdamaian Aceh serta masyarakatnya adil dan makmur. Pengibaran bendera bulan bintang bentuk syukur kami,” kata Jamil.
Kegiatan tersebut digelar untuk memperingati 21 tahun perdamaian antara Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Namun, rangkaian peringatan akhirnya diwarnai ketegangan antara massa dan aparat di sekitar Masjid Raya Baiturrahman.