JAKARTA — Langkah Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf alias Gus Irfan, yang mengangkat dua putra kandungnya sebagai tenaga ahli tengah menjadi pusaran kritik publik. Merespons polemik tersebut, Gus Irfan berdalih bahwa pengangkatan tersebut berawal dari dedikasi sukarela anak dan santrinya demi menutupi keterbatasan sumber daya manusia (SDM) di awal pembentukan institusi.
Isu dugaan nepotisme ini mencuat pasca-beredarnya lampiran Keputusan Menteri Haji dan Umrah Nomor 3 Tahun 2026. Dalam dokumen berisi sembilan nama tenaga ahli tersebut, tertera nama Barbarossa Muhammad Farros dan Gibran Muhammad Fawwaz yang merupakan putra dari Gus Irfan.
Gus Irfan menjelaskan, keterlibatan putranya bermula saat ia dan Wakil Menteri Dahnil Anzar Simanjuntak dilantik memimpin Badan Penyelenggara Haji (BP Haji) pada Oktober 2024 lalu. Saat itu, lembaga tersebut belum memiliki kantor, anggaran, maupun staf pendukung.
“Keluar dari istana kita enggak punya staf, kita enggak punya kantor, kita enggak punya apa-apa,” kata Gus Irfan dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Ia menyebut anak dan para santrinya saat itu langsung turun tangan mengurus berbagai keperluan kelembagaan secara sukarela.
“Dan mereka ini yang tanpa diminta membantu pembentukan badan penyelenggara haji itu. Tanpa gaji tanpa apa-apa selama 3 atau 4 bulan. Itu yang terjadi,” ujarnya.
Seiring perubahan BP Haji menjadi kementerian definitif, beberapa pihak yang dinilai kompeten akhirnya diangkat secara resmi. Gus Irfan juga menekankan bahwa ia tidak memaksimalkan kuota penunjukan staf yang menjadi haknya.
“Saya dapat lima tenaga ahli, saya ambil cuma empat,” tambahnya.
Di luar polemik penunjukan keluarga, Gus Irfan mengungkapkan kondisi internal Kemenhaj yang saat ini mengalami krisis pegawai. Berdasarkan analisis jabatan, kementerian yang baru dipimpinnya sejak September 2025 ini membutuhkan sekitar 7.000 pegawai, namun baru terisi sekitar 3.631 orang.
Untuk menambal kekurangan tanpa membuka rekrutmen ASN baru, Kemenhaj terpaksa mengandalkan mutasi pegawai dari instansi lain hingga tenaga outsourcing. Meski beroperasi dengan sumber daya terbatas dan pejabat yang merangkap tugas, Gus Irfan mengklaim penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 tercatat sebagai salah satu yang paling berhasil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.