BANJARMASIN — Perjuangan memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan kembali menelan korban jiwa. Nordin (51), seorang relawan Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) Sarimi Kayu Bulan, gugur usai kelelahan saat berjibaku menjinakkan api di kawasan Simpang Empat Handil Bakti, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Rabu (21/10/2026).
Berbekal peralatan dan Alat Pelindung Diri (APD) seadanya, Nordin bertaruh nyawa menembus kepulan asap pekat di garis terdepan bersama rekannya, Rahmat. Setelah berjam-jam memegang ujung selang untuk menahan pergerakan api, tenaga pria yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan itu terkuras habis.
“Beliau kecapean. Beliau bilang, ‘Mat, gantian dulu’,” kenang Rahmat dengan suara bergetar saat ditemui di rumah duka di Banjarmasin, menirukan ucapan terakhir sahabatnya.
Usai menepi untuk beristirahat, kondisi fisik Nordin merosot tajam. Ia mengeluhkan sesak napas dan nyeri dada yang luar biasa. Meski rekan-rekannya telah memberikan bantuan oksigen portabel, rasa sakit itu tak kunjung reda.
Nordin langsung dievakuasi menggunakan ambulans menuju rumah sakit. Namun, di tengah perjalanan, ia kejang dan meremas kencang baju Rahmat sembari memanggil namanya, sebelum akhirnya memejamkan mata untuk selamanya.
Kepergian sosok perintis BPK Kayu Bulan ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarganya. Putra sulung almarhum, Rehan Maulana (17), mengungkap sang ayah sempat menitipkan pesan terakhir agar ia menjaga dan memastikan adik-adiknya tetap bisa bersekolah jika dirinya tiada.
Sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi Nordin, Bupati Barito Kuala Bahrul Ilmi telah melayat ke rumah duka, menyerahkan santunan Rp10 juta, serta menawarkan jaminan tempat tinggal, pekerjaan bagi sang istri, hingga pendidikan untuk anak-anak almarhum.