JAKARTA – Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik signifikan. Erupsi yang terjadi pada Sabtu (5/9/2026) dini hari menghasilkan kolom abu vulkanik yang diperkirakan membumbung hingga sekitar 15.000 meter di atas permukaan laut.
Besarnya aktivitas tersebut bahkan mendapat perhatian dari otoritas Jepang. Badan Meteorologi Jepang atau Japan Meteorological Agency (JMA) memantau kemungkinan adanya gangguan muka laut yang dapat berkaitan dengan erupsi tersebut.
Mengutip Weathernews.jp, JMA menerima informasi mengenai gempa yang terdeteksi dari jarak jauh pada sekitar pukul 04.00 waktu Jepang atau 02.00 WIB. Otoritas Jepang kemudian menyatakan akan terus mengamati potensi tsunami yang mungkin muncul akibat aktivitas vulkanik di Indonesia.
Kewaspadaan JMA tidak lepas dari pengalaman erupsi Gunung Hunga Tonga-Hunga Ha’apai pada Januari 2022. Kala itu, letusan besar tidak hanya memicu aktivitas vulkanik, tetapi juga menghasilkan perubahan tekanan atmosfer dan gangguan permukaan laut yang efeknya terdeteksi hingga wilayah yang sangat jauh dari lokasi erupsi.
Karena itu, aktivitas Anak Krakatau kali ini dipantau dengan perhatian khusus untuk mengantisipasi kemungkinan dampak serupa.
Warga Dilarang Mendekat 3 Kilometer
Di Indonesia, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta masyarakat dan wisatawan meningkatkan kewaspadaan. Aktivitas masyarakat, pengunjung, maupun wisatawan dilarang dilakukan dalam radius 3 kilometer dari kawasan Gunung Anak Krakatau.
Gunung Anak Krakatau sendiri masih berstatus Level III atau Siaga. Status tersebut telah berlaku sejak peningkatan aktivitas vulkanik pada awal Juli 2026.
Masyarakat di kawasan pesisir Selat Sunda juga diminta tidak panik dan tidak mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Pemantauan terhadap aktivitas Anak Krakatau akan terus dilakukan oleh otoritas terkait. Masyarakat diminta mengikuti perkembangan hanya melalui informasi resmi BMKG dan Badan Geologi, sembari menunggu kondisi vulkanik kembali mereda.