JAKARTA — Kabar kurang sedap datang dari penyedia indeks global MSCI yang berencana menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia. Sentimen negatif ini langsung menghantam nilai tukar rupiah hingga terjerembap melewati batas psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (16/10/2026) pagi.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot dibuka melemah tajam 100 poin atau 0,56 persen ke posisi Rp18.038 per dolar AS. Padahal, pada penutupan perdagangan Kamis (15/10) sore, mata uang Garuda masih sanggup bertahan di level Rp17.938.
Tekanan berat terhadap rupiah ini memuncak setelah MSCI memulai konsultasi untuk mengubah status pasar saham domestik dari emerging market menjadi standalone market. Perubahan kasta ini memicu kepanikan investor akan potensi terjadinya arus keluar dana asing (capital outflow) secara besar-besaran dari pasar modal Indonesia.
Ironisnya, rupiah justru babak belur di saat indeks dolar AS di pasar global sedang melemah 0,45 persen ke level 101,99. Pelemahan dolar ini terjadi karena investor mulai mengalihkan perhatian dari data inflasi AS ke gejolak saham perusahaan yang terkait dengan pusat data kecerdasan buatan (AI).
Lesunya dolar AS di pasar global praktis membuat sejumlah mata uang utama dunia seperti Euro, Pound sterling, dan Yen Jepang kompak menguat. Di sisi lain, menyusul naiknya data harga produsen AS, pelaku pasar lewat perangkat CME FedWatch kini memprediksi peluang Federal Reserve (The Fed) untuk menahan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober 2026 mencapai 73 persen.