Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa lebih dari 700 orang di SMKN 6 Semarang memicu evaluasi terhadap anggaran penyediaan makanan. Anggota DPD RI Abdul Kholik menilai anggaran bahan makanan MBG saat ini terlalu minim dan perlu ditambah.
Kholik mengatakan anggaran bahan makanan setiap porsi MBG saat ini berkisar Rp8 ribu hingga Rp10 ribu. Menurutnya, angka tersebut perlu ditinjau untuk meningkatkan kualitas makanan sekaligus memastikan keamanan pangan.
“Menurut saya salah satu faktor kenapa kemudian (terjadi kasus) keracunan itu karena angka yang tadi sangat minim Rp10 ribu itu. Mungkin perlu ditinjau angka itu,” ujar Kholik di Semarang, Rabu (5/8/2026).
Ia mengusulkan anggaran bahan makanan dinaikkan menjadi Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per porsi. Menurutnya, tambahan anggaran dapat memberikan ruang lebih besar untuk menyediakan bahan pangan yang berkualitas.
“Anggaran khusus untuk bahan makanan setiap porsi MBG mungkin perlu ditambah, misalnya antara Rp15-Rp20 ribu,” katanya.
Namun, Kholik menegaskan persoalan MBG tidak hanya berkaitan dengan besaran anggaran. Setiap dapur penyedia makanan juga harus disiplin menjalankan standar operasional prosedur (SOP), terutama dalam pengolahan dan keamanan pangan.
Kasus dugaan keracunan di SMKN 6 Semarang sendiri terjadi pada 31 Juli 2026. Menyusul kejadian tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) membekukan sementara SPPG Karangturi yang memasok makanan ke sekolah tersebut.
Kholik menilai evaluasi menyeluruh diperlukan agar program MBG tidak hanya mengejar jumlah penerima, tetapi juga memastikan makanan yang diberikan benar-benar aman, bergizi, dan layak dikonsumsi anak-anak.