Jumat, Juni 12, 2026

Kisah Kapolri Hoegeng dan Lelucon Gus Dur tentang Polisi Jujur

MELIHAT INDONESIA – Tidak mudah menjadi polisi jujur. Saking sulitnya, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sampai membuat lelucon bernada sarkas.

Dengan berkelakar, Gus Dur menyebut hanya ada tiga polisi jujur di negeri ini, Kapolri Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso, patung polisi, dan terakhir polisi tidur.

Kisah ini soal nestapa yang mesti ditanggung Hoegeng Iman Santoso, polisi jujur yang namanya disebut Gus Dur dalam anekdotnya tersebut.

Hoegeng mendapat julukan polisi jujur karena sikapnya yang selalu berterus terang, apalagi ketika menghadapi penyelewengan-penyelewengan.

Pada 1968 Hoegeng diangkat menjadi Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) oleh Presiden Soeharto. Kala itu tengah marak terjadinya kasus penyelundupan.

Kasus yang berhasil ditangani Hoegeng dan cukup terkenal pada masa itu, di antaranya kasus penyelundupan mobil mewah yang didalangi oleh Robby Tjahyadi.

Ada juga kasus pemerkosaan gadis 17 tahun asal Yogyakarta yang kala itu kasusnya disebut Sum Kuning.

Kasus Sum Kuning menjadi heboh, lantaran para pelakunya merupakan anak-anak dari “orang berpangkat”.

Segala upaya dilakukan untuk menutup kasus ini. Namun, Hoegeng tetap bergeming.

Setelah menangani kedua kasus tersebut, beredar isu pencopotan Hoegeng dari jabatannya sebagai Kapolri.

Menteri Pertahanan dan Keamanan, Jenderal Maraden Pangabean, menjadi perantara memberikan surat pemberitahuan sekaligus penugasan kepada Hoegeng sebagai Duta Besar untuk Belgia. Padahal waktu itu masa jabatan Hoegeng belum usai.

Hoegeng pun menemui Presiden Soeharto. Pada pertemuan tersebut Presiden Soeharto mengatakan, “Tak ada tempat di negeri ini untukmu, Geng.”

Karena merasa tak pantas untuk jabatan diplomat, akhirnya Hoegeng memilih mundur dari dinas kepolisian.

Tak sampai di situ, menjelang perkawinan Prabowo Subianto dengan Titiek Soeharto, Hoegeng ditolak menjadi saksi pernikahan.

Soemitro, ayah Prabowo yang merupakan teman dekat Hoegeng, pernah meminta Hoegeng untuk menjadi saksi di pernikahan Prabowo.

Namun Presiden Soeharto, ayah Titiek melarang Hoegeng untuk datang di pernikahan tersebut. Pecahlah tangis Hoegeng pada saat itu. (tim)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.