Opini: Miss Mayda
MELIHAT INDONESIA – Semua hal di muka bumi ini semakin berkembang. Mulai dari ilmu, pengetahuan, permasalahan hidup sampai ke segala jenis penyakit. Dari kompleksnya semua itu, yang dibutuhkan setiap orang adalah kesehatan untuk melewatinya. Bukan hanya kesehatan badan, tapi juga mentalnya, kita biasa menyebutnya mental health.
Permasalahan yang dari hari ke hari semakin pelik, membuat generasi baru sekarang ini menjadi rentan dengan kesehatan mentalnya. Kenapa generasi baru? Karena mereka lahir di zaman yang sudah serba berkecukupan, dengan kecanggihan teknologi, tanpa krisis dan masalah besar yang mengguncang belahan bumi tempatnya lahir.
Bandingkan saja saat kita menghadapi anak 90-an dengan anak yang lahir di tahun 2001, 2002 dan seterusnya. Zaman mereka sudah berangsur-angsur membaik. Apalagi yang baru lahir 10-17 tahun yang lalu, mungkin mereka sudah bisa dikatakan mujur. Namun kemujuran mereka nyatanya berdampak besar dengan kondisi mentalnya hari ini dan mungkin ke depannya nanti. Jelas mereka lebih rentan.
Contoh simplenya ada amarah guru yang dulu bisa berdampak baik untuk anak didik. Karena amarah guru menjadi satu cambukan sekaligus motivasi anak didik untuk lebih maju, tapi nyatanya hal itu tidak sejalan dnegan kondisi hari ini. Kini, amarah guru bisa berdampak pada kemunduruan mental anak sampai pada tekanan batin sehingga hal itu membuat down.
Dampak yang lain ada banyak bullying yang muncul terus-menerus. Entah masalah ekonomi, kekurangan pada diri seorang anak, sampai ke hal privasi lainnya. Situasi dan kondisi itu bukan sebuah kesalahan, karena hal itu juga bagian dari perubahan siklus hidup di dunia ini, yang dari waktu ke waktu ada pembaharuan.
Setelah itulah baru ada solusi yang memang harus dijalankan untuk mengatasi permasalahan tersebut, sebelum melebar dan menjadi boomerang karena disepelekan. Di antaranya gerakan untuk mengawal diperketat, seperti di ranah sekolah lebih mengaktifkan fungsi Bimbingan Konseling (BK). Di luar, psikiater juga harus diandalkan dan ranahnya bukan lagi di Rumah Sakit kelas elite saja. Tapi harus mulai dimasifkan di tingkat pemukiman pada penduduk, sehingga bisa dijamah banyak kalangan. Pemerintah pusat harus berkoordinasi dengan daerah untuk melindungi generasi muda kita, agar kelak mereka tidak hilang tergerus oleh peliknya masalah yang memang sedang mendera mereka.
Jika masalah satu itu tidak bisa di treat dengan baik, dampaknya besar hingga bisa menjadi petaka karena tidak ada solusi yang ditawarkan. Seperti halnya bertindak di luar kemampuan sampai pada bunuh diri. Memang sidikit tricky, karena mental health itu bermula dari hal ringan seperti teman bercerita, untuk mencurahkan semua keluh kesah hingga kejadian yang membuat mereka terus berpikir hingga menjadi sebuah kekhawatiran nantinya.
Anak zaman now juga harus memperhatikan bagaimana kondisi mentalnya. Malu bukan solusi untuk menyembunyikan semua, karena mencurahkan cerita adalah satu hal untuk membuat beban di kepala kita berkurang. Jadi tetap jaga kesahatan mental ya kawan, dimanapun kalian berada.
Love our self adalah bukti kita mensyukuri pemberian Tuhan. Jadi jangan sampai kita jadi kufur nikmat dengan membiarkan sesuatu hal yang mengganggu bersarang di kepala kita, hingga membuat mental kita down. Tetap jaga kesehatan kawan, semoga kita selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. (*)