Kabar manis datang dari sektor pertanian, PDB-nya disebut mencetak rekor. Tapi di balik angka yang kinclong itu, suara keluhan para petani justru masih terdengar nyaring. Ironis, di saat prestasi dipamerkan, banyak petani di lapangan malah harus menelan pil pahit gagal panen.
Penyebabnya ternyata bukan semata-mata soal cuaca atau faktor alam. Biang kerok yang disorot adalah distribusi pupuk subsidi yang kurang tepat sasaran dan sering datang terlambat. Pupuk yang seharusnya jadi penopang justru berubah jadi sumber masalah baru buat mereka yang menggantungkan hidup dari sawah.
Sorotan ini mengemuka dalam perbincangan di TVRI lewat program Swasembada Pangan yang mengangkat capaian, tantangan, dan keberlanjutan. Di studio, praktisi pertanian Andi Undru Mario, S.Sos, M.Si, ikut membahas persoalan yang selama ini jadi keluhan klasik petani. Judul besarnya saja sudah menohok, banyak petani gagal panen gara-gara distribusi pupuk subsidi yang kurang tepat.
Logikanya memang gampang ditebak. Pupuk yang telat datang berarti musim tanam ikut kacau, sementara pupuk yang salah sasaran berarti yang berhak justru gigit jari. Kalau dua hal ini terus berulang, produktivitas anjlok dan cita-cita swasembada pangan terancam cuma jadi jargon di atas kertas.
Cerita seperti ini juga yang bikin warganet gampang tersulut. Di satu sisi pemerintah bangga dengan angka pertumbuhan, di sisi lain petani menjerit soal barang subsidi yang tak kunjung sampai tepat waktu dan tepat orang. Kontras inilah yang membuat isu pupuk subsidi selalu panas setiap musim tanam tiba.
Sampai berita ini ditulis, keluhan soal distribusi pupuk subsidi itu masih jadi pekerjaan rumah besar. Kalau urusan perut petani saja belum beres, rasanya terlalu dini merayakan rekor sambil menutup mata dari sawah yang gagal panen.