Jumat, Agustus 14, 2026

Prabowo Pamer Bank Emas RI Tembus 153 Ton, Masyarakat Sekitar Kecipratan Tidak Kok Kemiskinan Masih Tinggi?

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan Bank Emas Indonesia telah mengelola 153 ton emas dengan nilai sekitar Rp360 triliun atau US$20 miliar dalam satu tahun operasional.

Hal itu disampaikan Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR RI 2026 dan Sidang Bersama MPR, DPR, dan DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).

“Hari ini dengan adanya bank emas yang baru beroperasi 1 tahun, bank emas kita di Pegadaian dan BSI sudah mengelola 153 ton emas dengan nilai sekitar Rp360 triliun, US$20 miliar,” ujar Prabowo.

Bank emas tersebut dijalankan melalui PT Pegadaian dan PT Bank Syariah Indonesia (BSI). Menurut Prabowo, kehadiran Bank Emas diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Presiden menegaskan Indonesia tidak boleh hanya menambang emas, tetapi juga harus mampu menyimpan, memperdagangkan, serta memberikan nilai tambah terhadap komoditas tersebut di dalam negeri.

“Kita ingin emas tak hanya ditambang di negeri ini, tapi disimpan, diperdagangkan dan diberi nilai tambah di negeri orang lain,” katanya.

Namun, besarnya nilai emas yang dikelola tersebut juga memunculkan pertanyaan: sejauh mana manfaat kekayaan sumber daya alam benar-benar dirasakan masyarakat?

Sebab, besarnya aktivitas ekonomi berbasis sumber daya alam tidak otomatis membuat masyarakat di wilayah kaya sumber daya terbebas dari kemiskinan. 

Data terbaru BPS yang dirilis pada Februari 2026 mencatat tingkat kemiskinan Papua Pegunungan sebesar 27,21 persen pada September 2025. Angka tersebut masih menjadi yang tertinggi di Indonesia.

Sebagai pembanding, pada periode yang sama, tingkat kemiskinan nasional mencapai 8,25 persen, dengan jumlah penduduk miskin sekitar 23,36 juta orang. Artinya, tingkat kemiskinan Papua Pegunungan masih lebih dari tiga kali lipat angka nasional.

Angka tersebut memang tidak dapat secara langsung dikaitkan dengan pengelolaan emas atau Bank Emas. Namun, kondisi ini menunjukkan bahwa kekayaan sumber daya alam belum otomatis berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat di seluruh wilayah.

Pertanyaan publik pun menjadi relevan: jika Bank Emas telah mengelola emas senilai Rp360 triliun, seberapa besar manfaat ekonomi tersebut benar-benar kembali kepada rakyat?

Manfaat kekayaan alam idealnya tidak berhenti pada aktivitas pertambangan, perdagangan, maupun lembaga keuangan. Dampaknya diharapkan terlihat dalam penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, pendidikan, kesehatan, pembangunan infrastruktur, serta kualitas hidup masyarakat, terutama di daerah penghasil sumber daya.

Dengan demikian, keberhasilan Bank Emas bukan hanya soal berapa ton emas yang berhasil dikelola, tetapi juga seberapa besar kekayaan tersebut mampu menciptakan nilai tambah dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.