MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Ikatan Santri DKI Jakarta mengungkapkan kekecewaan mendalam terhadap pernyataan calon wakil gubernur nomor urut 1, Suswono, yang dianggap tidak pantas dan menyentuh sensitivitas umat Islam. Dalam pernyataannya, Suswono sempat mengibaratkan Nabi Muhammad SAW sebagai ‘pengangguran’, yang menuai kritik keras dari berbagai pihak.
Ketua Ikatan Santri DKI Jakarta, Maulida, menyatakan bahwa ucapan tersebut mencederai nilai-nilai keagamaan dan menunjukkan sikap yang tidak layak dari seorang calon pemimpin.
“Ucapan ini benar-benar mengejutkan. Bagaimana mungkin Nabi Muhammad SAW, yang merupakan teladan bagi umat Islam, diibaratkan seperti itu? Ini tidak hanya melukai hati umat, tetapi juga merusak citra pemimpin,” kata Maulida dalam pernyataan resmi pada Minggu (17/11/2024).
Seruan untuk Penegakan Hukum
Ikatan Santri DKI meminta Bawaslu dan kepolisian segera mengambil tindakan tegas terhadap pernyataan tersebut. Maulida menegaskan bahwa penghinaan terhadap simbol agama tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja.
“Kami mendesak aparat penegak hukum segera memproses kasus ini secara adil. Jangan sampai hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas,” tambahnya.
Senada dengan itu, Ilham Kautsar, salah satu pengurus senior Ikatan Santri DKI, menilai bahwa ucapan tersebut adalah penghinaan serius terhadap Nabi Muhammad SAW.
“Menghina manusia paling mulia dengan kata-kata seperti itu adalah tindakan yang sangat keterlaluan. Kalau ini dibiarkan, apa jadinya rasa keadilan di negeri ini?” ujar Ilham.
Kritik terhadap Integritas Kepemimpinan
Ikatan Santri DKI juga menyoroti pentingnya integritas calon pemimpin, terutama dalam menjaga keberagaman dan toleransi. Menurut mereka, seorang pemimpin harus menunjukkan sikap yang bijak dan menghormati nilai-nilai agama yang dianut masyarakat.
“Jakarta adalah kota dengan keberagaman yang luar biasa. Namun bagaimana kita bisa menjaga harmoni jika calon pemimpinnya saja tidak bisa menjaga ucapan?” tutur Maulida.
Permintaan Maaf dan Klarifikasi Suswono
Di sisi lain, Suswono telah menyampaikan permintaan maaf atas pernyataannya yang menuai kontroversi. Ia mengklaim bahwa ucapannya tersebut hanyalah candaan yang disampaikan saat menanggapi celetukan warga.
“Saat itu saya hanya bercanda. Tidak ada niatan untuk melecehkan atau menyinggung pihak mana pun,” ujar Suswono dalam keterangannya.
Namun, permintaan maaf ini tidak sepenuhnya meredam kontroversi. Banyak pihak yang tetap mendesak agar kasus ini diselidiki lebih lanjut untuk memastikan tidak ada pelanggaran hukum.
PKS: Fokus pada Program
Juru Bicara PKS, Ahmad Mabruri, meminta agar semua pihak tidak memperpanjang polemik ini. Ia menegaskan bahwa Bawaslu telah menilai kasus tersebut dan tidak menemukan unsur pelanggaran pidana.
“Kasus ini sudah selesai. Bawaslu tidak melihat adanya unsur pidana, dan kami berharap semua pihak fokus pada visi-misi paslon saja,” jelas Ahmad.
Mengingatkan Masyarakat untuk Bijak Memilih
Ikatan Santri DKI Jakarta mengakhiri pernyataannya dengan mengimbau masyarakat agar lebih kritis dalam memilih pemimpin. Menurut mereka, seorang pemimpin yang baik adalah yang mampu menjaga persatuan, menghormati nilai-nilai agama, dan menunjukkan integritas yang kuat.
“Pemimpin bukan hanya soal visi dan misi, tetapi juga soal keteladanan. Kita harus lebih bijak dalam memilih,” pungkas Maulida. (**)