MELIHAT INDONESIA, SURABAYA – Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari, sosok ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU), dikenal sebagai pribadi yang memiliki karomah luar biasa. Salah satu kisah yang paling menginspirasi adalah perjumpaannya dengan Nabi Khidir, sebuah pengalaman spiritual yang menjadi simbol keikhlasan dan ketakwaan beliau dalam menuntut ilmu.
Suatu malam, hujan deras mengguyur halaman kediaman Syekhona Kholil Bangkalan, seorang ulama besar asal Madura yang dikenal memiliki kedalaman spiritual. Di tengah suasana tersebut, muncul seorang lelaki tua dalam keadaan lumpuh, berjalan dengan cara ngesot di halaman rumah Syekhona.
Melihat pemandangan itu, Syekhona Kholil meminta para santrinya untuk membantu tamu tersebut. “Siapa yang bersedia menggendong orang tua ini?” tanyanya.
Di antara banyak santri, hanya satu yang maju dengan penuh keikhlasan. “Saya bersedia, guru,” ujar santri itu. Dengan hati tulus, ia menggendong lelaki tua tersebut dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Setibanya di hadapan Syekhona Kholil, tamu tersebut diperlakukan dengan penuh hormat. Syekhona Kholil berdialog dengan lelaki tua itu dalam suasana yang penuh hikmah. Setelah perbincangan selesai, Syekhona kembali meminta santrinya untuk mengantarkan tamu tersebut keluar. Santri itu, dengan rasa hormat yang sama, kembali menggendongnya hingga ke depan pintu.
Ketika lelaki tua itu telah pergi, Syekhona Kholil berujar kepada para santrinya, “Saksikanlah, ilmu-ilmuku kini telah dibawa olehnya.” Sontak, para santri terkejut dengan pernyataan tersebut. Namun, mereka belum memahami sepenuhnya apa maksud dari ucapan gurunya.
Baru beberapa waktu kemudian, mereka menyadari bahwa lelaki tua yang datang malam itu bukanlah orang sembarangan. Tamu tersebut diyakini sebagai Nabi Khidir, sosok yang dipercaya memiliki kehidupan abadi dan sering menyamar dalam rupa orang biasa. Nabi Khidir dikenal sebagai pembawa ilmu-ilmu laduni, yang hanya diberikan kepada orang-orang pilihan Allah.
Santri yang tulus menggendong Nabi Khidir itu tak lain adalah KH Hasyim Asy’ari. Keikhlasan dan kerendahan hatinya dalam melayani tamu yang ternyata adalah sosok nabi menjadikannya sebagai pribadi yang layak menerima ilmu-ilmu istimewa.
Kejadian tersebut bukan hanya menjadi titik balik dalam kehidupan KH Hasyim Asy’ari, tetapi juga sebuah simbol bahwa ilmu yang berkah hanya diberikan kepada mereka yang tulus dan rendah hati dalam mencarinya.
Pertemuan KH Hasyim Asy’ari dengan Nabi Khidir kemudian dikenal sebagai salah satu bentuk karomahnya, bukti kedekatan beliau dengan Allah SWT. Karomah ini juga memperlihatkan bagaimana seorang ulama besar lahir dari perjalanan spiritual yang panjang, penuh ujian, dan keikhlasan.
Dalam perjuangannya, KH Hasyim Asy’ari berhasil memadukan ilmu syariat dan ilmu hakikat, menjadi figur yang membawa pencerahan bagi umat Islam di Indonesia. Tak hanya pendiri NU, beliau juga dikenang sebagai sosok yang mampu menjembatani nilai-nilai keilmuan dengan pengamalan spiritual yang mendalam.
Kisah ini terus diceritakan dari generasi ke generasi sebagai pengingat tentang pentingnya keikhlasan dan kerendahan hati. Para santri dan masyarakat menjadikan pengalaman spiritual KH Hasyim Asy’ari sebagai teladan, bahwa pelayanan terhadap sesama, sekecil apa pun, bisa menjadi jalan menuju ilmu yang berkah.
Bagi umat Islam, khususnya warga Nahdliyin, kisah ini menjadi inspirasi untuk selalu menuntut ilmu dengan niat yang lurus, menjunjung tinggi nilai-nilai keikhlasan, serta mendekatkan diri kepada Allah. Perjalanan hidup KH Hasyim Asy’ari adalah bukti nyata bahwa keikhlasan dan pengabdian tulus dapat membuka pintu-pintu keistimewaan yang tak terduga.
Hingga kini, karomah KH Hasyim Asy’ari tidak hanya menjadi legenda spiritual, tetapi juga menjadi spirit perjuangan yang terus hidup dalam hati umat Islam Indonesia. (**)